Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia memiliki potensi besar di sektor keuangan, termasuk asuransi. Namun kenyataannya, pemahaman masyarakat Indonesia tentang asuransi masih sangat rendah.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa literasi asuransi hanya sekitar 31–45% dari populasi dewasa — artinya masih lebih dari separuh masyarakat belum benar-benar memahami apa itu asuransi dan manfaatnya. (OJK Portal)
Angka ini bahkan jauh lebih rendah dibanding literasi perbankan yang berada di kisaran hampir 50%. (Bisnis Finansial) Terlihat jelas bahwa meskipun literasi keuangan nasional menunjukkan tren kenaikan, pemahaman terhadap produk asuransi masih tertinggal. (OJK Portal)
Masalah Umum
🔹 1. Kebingungan antara Asuransi dengan Tabungan/Investasi
Banyak orang masih mengira asuransi itu semacam tabungan atau investasi. Mereka tidak memahami konsep risiko, perlindungan, dan manfaat jangka panjang. (OJK Portal)
🔹 2. Penetrasi Asuransi yang Rendah
Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah — sekitar 1,4% dari produk domestik bruto — jauh tertinggal dibanding negara tetangga di ASEAN. (Berita Kini Ekonomi)
🔹 3. Miskonsepsi dan Komplain
Ketidaktahuan masyarakat sering berujung pada salah paham terhadap polis, proses klaim, atau manfaat produk — yang berkontribusi pada peningkatan jumlah pengaduan nasabah. (kontan.co.id)
🔹 4. Inklusi vs Literasi
Walau saling terkait, literasi dan inklusi adalah dua hal berbeda. Sebagai contoh, literasi asuransi bisa sedikit lebih tinggi dibanding inklusi (orang memahami tapi tak memiliki produk), menunjukkan bahwa memahami saja tak cukup untuk mendorong pembelian. (Nasional Re)
🔹 5. Akses & Sosialisasi yang Belum Merata
Penetrasi di daerah terpencil dan di kalangan kelas menengah bawah masih sangat rendah karena akses yang terbatas serta minimnya edukasi yang relevan bagi berbagai segmen masyarakat. (Scribd)
Insight
📌 Literasi itu Lebih dari Sekadar Mengetahui Nama Produk
Literasi asuransi bukan sekadar tahu bahwa “asuransi itu ada”. Literasi berarti:
memahami konsep risiko,
tahu manfaat versus biaya premi,
tahu bagaimana klaim bekerja,
memahami perbedaan jenis produk.
Jika masyarakat hanya familiar dengan istilah tanpa tahu implikasinya, itu bukan literasi yang efektif.
📌 Sektor Asuransi Berbeda dengan Perbankan
Produk asuransi cenderung kompleks: banyak istilah seperti premium, polis, prinsip ganti rugi, deductible, hingga benefit limit. Kondisi ini membuat asuransi lebih sulit dipahami dibanding produk tabungan atau kredit sederhana. (Bisnis Finansial)
📌 Persepsi Negatif terhadap Profesi Agen
Sering kali masyarakat mengaitkan agen asuransi dengan sales pitch yang “agresif”. Ini menimbulkan resistensi untuk belajar lebih jauh tentang manfaat produk.
📌 Perubahan Perilaku Digital Belum Merata
Walaupun ada peningkatan inklusi melalui produk digital (embedded insurance dalam e-commerce/digital apps), hanya memahami fitur tersebut tidak otomatis meningkatkan pemahaman konsep asuransi yang benar. (Investing.com Indonesia)
Solusi
✔️ 1. Edukasi yang Lebih Sederhana dan Kontekstual
Buat konten literasi yang mudah dimengerti:
Video pendek, ilustrasi, dan infografis tentang konsep dasar asuransi.
Konten lokal sesuai perilaku masyarakat Indonesia.
✔️ 2. Fokus Segmentasi Audiens
Segmentasi lalui kelompok usia dan latar belakang berbeda:
Milenial & Gen Z: edukasi melalui media sosial.
Komunitas lokal: workshop di desa/kelurahan.
✔️ 3. Kolaborasi dengan Pemerintah & Pelajar
Arahkan lembaga pendidikan memasukkan literasi asuransi dalam kurikulum ekonomi/keuangan sejak dini.
✔️ 4. Peran Agen Asuransi sebagai Edukator
Agen harus menjadi trusted advisor, bukan sekadar “penjual”.
Latih komunikasi edukatif
Gunakan need analysis bukan hard sell
✔️ 5. Gunakan Digital untuk Simplifikasi Pemahaman
Platform digital bisa dipakai untuk:
simulasi klaim,
penjelasan manfaat produk,
perbandingan polis.
Kesimpulan
Memahami asuransi bukan hanya penting untuk industri — tetapi esensial bagi ketahanan finansial keluarga Indonesia. Literasi yang tinggi berarti masyarakat bisa membuat keputusan finansial yang lebih bijak, memilih produk yang tepat, dan mengurangi risiko misklaim atau salah harapan.
Dengan edukasi yang tepat, dukungan regulasi, serta peran aktif agen profesional, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan literasi asuransi secara signifikan di tahun-tahun mendatang. Literasi bukan sekadar angka statistik — ia adalah fondasi kepercayaan, kepemilikan proteksi, dan perlindungan finansial jangka panjang bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. 🚀
_ud4FSPPC4.png)